Walkability, Bikability serta car sharing menjadi inspirasi dari Berlin, (Seri 2)

  • Posted on: 9 September 2013
  • By: admin
Body: 

Penginapan hotel intercity hotel berlin terpadu dengan mall, merupakan wujud Transyt Oriented Development (TOD) yang sangat bagus, dimana terdapat hotel dan mall sebagai tarikan perjalanan orang dan juga menyediakan stasiun bawah tanah yang yang tergabung dalam system U-Bahn sebagai transfer moda,juga terdapat stasiun S-Bahn yang melayani trayek antar kota(jarak lebih panjang) juga halte bus kota dan antar kota, parkir sepeda angin dan salah satu yang terpenting yaitu sistem park and ride dengan menyediakan lahan parkir di basemen. Keterpaduan dari banyak moda dan melakukan transfer moda sesuai pilihan, sangat mendukung dan meningkatkan mobilitas dengan banyak kemudahan aksesibiitas yang disediakan di lokasi ini.

Hal yang perlu kita ketahui sebagai pengetahuan baru, sebagaimana kota-kota di Negara maju lain yang telah menerapkan sustainable transport, Berlin juga telah lama membangun kota dengan meletakkan dasar-dasar sistem transportasi dan kesadaran berlalu lintas yaitu selama 30 tahun terakhir, teknik yang digunakan adalah sama yaitu Push and Pull, dimana melaksanakan push dari penggunaan kendaraan pribadi yang cukup tinggi dan dilaksanakan banyak sekali kebijakan pembatasan pergerakan kendaraan dan produksi sehingga diharapkan pada saat yang bersamaan  dilakukan program PULL(menarik) yaitu orang-orang yang sebelumnya menggunakan kendaraan mobil/motor pribadi beralih ke penggunaan fasilitas angkutan umum masal, dan tentunya harus bisa merangsang sekaligus memaksa pengguna kendaraan pribadi tersebut beralih ke angkuta umum massal, tentunya juga penyediaan fasilitas sarana-prasarana, law enforcement dan peningkatan pengetahuan orang untuk menggunakan angkutan umum massal .

Berlin juga mengajak masyarakat setempat untuk berpatisipasi aktif dalam proses perencanaan kota, hal itu terlihat dari integrasi sejak dari proses konsultasi sampai dengan terbitnya perijinan penggunaan lahan yang sangat ketat dengan satu pengelola dan warga setempat wajib melaksanakan fungsi bangunan sesuai dengan penetapan perencanaan kota yang telah dibuat Kota Berlin. Sehingga tidak akan nada lagi bangunan yang baru/akan beroperasi bermasalah dan berbeda fungsi/komitmen yang telah ditetapkan.

Suatu terobosan dalam salah satu langkah push-pull yang berbeda di dengan kota lain adalah penerapan CAR SHARING, dimana mengambil konsep seperti mobil yang direntalkan namun dengan sistem e-ticketing, hal ini terwujud dengan adanya beberapa perusahaan yang menjadi pengelola bisnis ini. Gambarannya adalah sebagai berikut, telah disediakan suatu mesin box counter, lalu calon penyewa kendaraan mobil mendatangi konter tersebut dan mengisi sejumlah uang sesuai keinginan lama waktu peminjaman yang disesuaikan dengan prediksi waku tempuh yang mungkin digunakan. Setelah mengisi uang di mesin dan memilih waktu yang yang diinginkan,maka keluarlah smartcard dari mesin tersebut. Berikutnya penyewa car sharing tersebut bisa memilih mobil yang telah disediakan di basemen, dan setelah smartcard di tap di depan kaca mobil melalui mesin tap yang ada di dashboard kendaraan di dalam mobil(didalam kaca), berikutnya pintu mobil akan terbuka dan mobil siap digunakan. Setelah sampai di lokasi yang diinginkan dan mobil telah diparkir dengan aman, kembali lagi smartcard di tap di mesin pembaca/card reader yang berada di dalam kaca mobil lalu kendaraan akan terkunci dengan sendirinya. Penggunaan car sharing ini sangat diminati,dikarenakan bila warga Berlin berkeinginan memiliki mobil pribadi, maka akan banyak sekali kesulitan/syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti pajak tinggi, dan juga banyaknya pembatasan pergerakan kendaraan seperti pemberlakuan zona tertentu berdasarkan emisi gas buang yang ditetapkan pemerintah, serta juga penerapan parkir zoning (berbeda tariff sesuai zona masing-masing). Car Sharing menggunakan dua model kendaraan mobil yaitu dengan menggunakan BBM bensin dan menggunakan listrik sebagai sumber tenaga dan akhirnya hal ini menjadi solusi hemat biaya dan tanpa perlu adanya biaya pemeliharaan kendaraan dan hal-hal lain sebagaimana tersebut diatas, cukup inspiratif, namun suatu waktu bisa diwacanakan di Kota Solo tercinta.

Berikutnya kita lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, rute kita kali ini mengkombinasikan sebagai turis dan juga sebagai pengamat transportasi. Pedestrians Awal dari strategi yang dicanangkan oleh Senat Berlin sebagai foot traffic yang akhirnya ditetapkan dalam kebijakan “Berlin on foot” hal ini bertujuan untuk meningkakan jumlah pejalan kaki, kenyamanannya, mengurangi kecelakaan lalu lintas dan mengkreasikan untuk merangsang orang untuk datang di publik space yang telah disediakan. Dengan perencanaan tata kota yang handal terintegrasi TOD, kemudahan aksesibilitas dan penyediaan sarana dan prasarana yang ada serta juga prioritas pejalanan kaki sebagai yang wajib didahulukan sesuai peraturan daerah setempat maka meningkatkan jumlah pejalan kaki dan bahkan banyak mereka lebih senang berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebagai kesenangan maupun sebagai olahraga menyehatkan guna meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan dalam rute perjalanan kali ini mendatangi Stasiun Ostbahnhof yang berada di samping hotel, lalu naik kereta api U-Bahn menuju Stasiun Kereta Api Lichtenberg untuk melihat sistem integrasi antar moda yang ada di stasiun ini , satu hal yang cukup menonjol adalah tersedianya sistem parkir park and ride yang disediakan parkir gratis dan juga adanya car sharing di lokasi tersebut. Berikutnya perjalanan dialnjutkan ke suatu kota lama yang dibangun kembali dengan mengkombinasikan bangunan baru dan bangunan lama di Frankfurter Alle dan dilokasi ini pula ditunjukkan sistem pengendalian parkir zoning dengan alat bantu ticketing box mesin yang menggunakan daya solar cell, dengan print out berupa stiker yang ditempelkan di kaca mibil perlu diketahui bahwa ada pilihan tariff per 15 menit, dan dikarenakan lokasi ini tidak terlalu dalam kota(bukan intensitas lalu lintas dan parkir tinggi) maka tariff per 15 menit seharga 0,25 euro, dan ada petugas control setiap 15 menit(ataupun random) untuk pengecekan parkir yang dilakukan warga.

Perjalanan dilanjutkan ke perumahan tradisional di Samariterviertel hal yang menarik disini bahwa lokasi disini semula adalah lokasi perumahan warga yang kumuh dan akhirnya dibangun kembali dengan sistem flat/bertingkat maka terlihat rapi, dan nyaman. Dengan menggunakan Kereta Api U-Bahn di setiap stasiun dapat ditemui SOS information by voice,dimana kita bisa bertanya 2 arah dengan operator selama 24 jam melalui perangkat yang disediakan secara gratis, lalu setelah itu menuju Alexanderplatz suatu public space yang cukup luas, tepat di tengah kota, dimana pula hanya dikhususkan pejalan kaki dan pesepeda, dan juga melintas dilokasi tersebut adalah tram dan diatas lokasi tersebut adalah stasiun Kereta Api Alexander Platz

Dari Alexander Platz dilanjutkan tour dengan bersepeda, dengan biaya rental 10 euro/hari, dilanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata monument tembok Berlin yang dulu membelah kota Berlin menjadi dua, dan masih ada sisa-sisa yang dipertahankan dengan kondisi sangat terawat. Dilanjutkan melintas di setiap ruas jalan yang hamper semuanya difasilitasi lajur khusus pesepeda di bahu jalan, menuju lokasi Bradenburger Tor(komplek kedutaan besar Negara sahabatnya Jerman), REichtagsgebaude(gedung parlemen) dan Rothes Rathus (gedung balaikota), konzerthaus Berlin dan ke museum nikholai yang merupakan bekas gereja yang dibangun tahun 1568 yang masih kokoh berdiri.

Sunggu menjadi pengalaman berharga ketika ruang bersepeda dan berjalan kaki sangat nyaman terfasilitasi dan menjadi prioritas dalam pergerakan berlalu lintas.

namun ternyata dibalik kesuksesannya,masih ada tantangan dan masalah yang dihadapi oleh Berlin, yaitu dengan meningkatnya penggunaan sepeda angin sebagai moda transportasi banyak warga Berlin, banyak pula pencurian sepeda angin terjadi, dan juga dengan banyaknnya tembok sebagai batas publik space,sangat memudahkan terjadinya corat-coret/vandalism di Kota Berlin. dan hal tersebut tidaklah terlalu signifikan menggangu sistem transportasi dan perencanaan kota Berlin yang terus meningkat dalam pembangunan. 

Terimakasih atas perhatiannya,insyaAllah akan dilanjutkan sharing informasi pada edisi besok (seri 3).

Berita: 
Section: 
Tags: