Solo, Jogja dan Bogor Wakili Indonesia dalam Presentasi WALK 21 (Seri 7, 13 September 2013)

  • Posted on: 15 September 2013
  • By: admin
Body: 

Memasuki hari ke 7 di Jerman sekaligus hari ke 3 di Munich, pagi ini (13/9) kami memulai perjalanan menuju ke Munich dengan Kereta api S-6 dari stasiun Fieldafing, dan ternyata kami masih mempunyai tiket terusan menggunakan angkutan umum secara bebas kemana saja dan jam berapa saja, selama 3 hari yang menjadi jatah bagi peserta. Tiket ini memudahkan segala urusan kami dalam kegiatan transportasi selama di Munich. Dimana kota ini mirip dengan Kota Berlin pernah kami kunjungi sebelumnya yaitu railway oriented dimana jalur angkutan kereta api mendominasi kota dan jangkauan nya sangat luas serta dapat menjangkau seluruh wilayah Munich. Sesampainya di Kongres Hall lokasi hari terakhir WALK21 Conference ada beberapa agenda yang kami rencanakan. Sesi pertama kami bergabung dengan diskusi di plenary room dimana mengambil tema MAJOR PANELS, dan sekali lagi kita bertemu dengan Walikota Munich Pep Monatzeder yang sangat inpiratif sebagai narasumber dan didamping Miguel Anxo Fernandes Lores- Lord Major Pontevedra-Meksiko, Ahmed Omi Wakil Walikota Shkodra di Negara Albania dan Graham Jahn direktur planning, development and transport departemen of Sidney Australia. Sedikit paparan dari Pep, bahwa setiap kota membutuhkan good walkability untuk bisa menjadi liveable city, dimana kota yang liveable adalah kota dimana anak-anak dan orang berusia tua dapat bercengkrama di banyak  open space kota. Sedang dari Skhodra menyampaiakan dimana kota ini hanya didiami 120.000 penduduk dengan modal share 44% pejalan kaki, 29% bersepeda, 20 % public transport dan sisanya lain-lain. Angka yang sangat fantastik ketika sebagian besar orang di kota tersebut memiliki tingkat penggunaan/ berjalan kaki yang sangat tinggi dan mendekati separo dari data yang ada, dengan mayoritas pergerakan transportasi adalah berjalan kaki maka sangatlah nyaman dan sebagai compact city dan satu hal yang menjadi teladan adalah sang pemimpin alias walikota nya pun berangkat dan pulang kerja dengan berjalan kaki. Dengan sang pemimpin membei contoh, maka warganya pun juga tidak keberatan mengikuti keteladanannya.

Berikutnya kami bergabung dalam ruang diskusi panel tersendiri yang membahas 3 topik yaitu yang pertama tentang optimalisasi jalur pejalan kaki di kawasan stasiun Nijmegen Belanda, yang pada garis besarnya dari masalah stasiun kereta api dan fasilitas transportasinya kurang diminati oleh warga sekitar karena sangat kotor jalan di sekitar stasiun dan tidak terfasilitasi dengan jalur pedestrian dan lain sebagainya dan dengan solusi perbaikan kawasan tersebut masyarakat mereka akhirnya mau dan meningkat jumlah pengguna kereta apinya, kedua presentasi sedikit unik dari Lousanne Swiss, yang mengangkat tema tentang optimalisasi platform tempat berdiri untuk menunggu datangnya kereta api yang akan membawa mereka menuju perjalanan berikutnya. Tempat menunggu di platform ini sedikit mengganggu mobilitas pengguna  untuk keluar masuk ke menuju platform menunggu dan juga kecenderungan orang (dan juga dalam grup beberapa orang) untuk berdiri di platform dekat papan informasi kedatangan dan di depan escalator. Setelah di survey dan di kaji mendalam, disolusikan dengan menata lokasi-lokasi yang mana ditandakan dengan papan informasi sesuai dengan fungsi masing-masing seperti bila berdiri secara grup dan masih menunggu cukup lama (sesuai waliting time display yng ada) mereka menunggu di open space yang sedikit jauh dari platform utama dan diberi fasilitas tempat duduk grup yang nyaman dan ditambah pohon-pohon untuk agak hijau, lalu larangan berdiri terutama di depan escalator dengan penandaan papan larangan atau tergambar di lantai stasiun, akhirnya dengan penyesuaian sederhana ini didapatan hasil sesuai perbandingan pemetaan titik menunggu penumpang sebelumnya dan sesudah dilakukan manajemen didapatkan hasil yang sangat bagus dan terjadi pemerataan tempat berdiri dan mobiitas menjadi tinggi dan sangat nyaman. Hal ini sebenarnya sangat simple dan kadang diluar pemikiran kita dan perlu kita apresiasi bersama. Ketiga presentasi yang cukup menarik dari LSM Living Street dari Inggris,yang mengambil tema Connect The Journey, LSM ini bertujuan untuk mengajak beralih ke berjalan kaki untuk kegiatan transportasinya dan menyampaikan data sangat menarik bahwa kegiatan kampanye untuk fasilitas pedestrian yang lebih baik ini telah dilaksanakan selama 84 tahun, telah menjangkau 2 juta anak untuk berjalan ke sekolah, 80.000 mil telah ditempuh para pekerja selama penyelenggaraan “Walk to Walk Week”, dan mendapatkan 10.000 pendukung dalam mengkampanyekan kecepatan kendaraan dalam kota maksimal hanya 20 km/jam. Dan sebagai contoh studi kasus yang ditangani LSM in di Southern Railway (suatu jaringan kereta api di Inggris) dimana mempunyai 156 stasiun(yang melintas London, timur dan barat Sussex, Surrey, Kent dan Hampire), 414 mil jalur kereta api, 300 gerbong kereta api yang beropearsi 24 jam/hari 7 hari seminggu dan 446.500 perjalanan penumpang/hari. Dan dari hasil survey LSM living street tersebut  4.500 orang yang menerima informasi dan mendapatkan saran untuk beralih ke berjalan kaki didapatkan hasil 2.500 orang diberi/meminta pedometer(alat pengukur panjang perjalanan seperti stopwatch), dimana akhirnya didapatkan hasil penambahan peralihan moda yang sebelumnya menggunakan mobil sekarang dengan berjalan kaki sebanyak 10 %, dan dari sebelumnya 50 % sample sudah melakukan aktivitas berjalanan kaki,tetap mempertahankan aktivitasnya tersebut. Angka penambahan 10% dengan jangka waktu yang, sudah menunjukkan keberhasilannya, sehingga total 60 % orang berjalan kaki dalam aktivitas bekerjanya. Untuk info lebih lanjut tentang LSM ini silakan klik http://www.livingstreets.org.uk/

Acara berikutnya adalah diskusi panel dengan peserta diantara nya adalah kami (Kota Jogjakarta, Kota Solo dan Kota Bogor), dan kami mendapatkan session ketiga/terakhir, session pertama diberikan kepada kota Kyiv (Ukraina) yang membahas tentang kebijakan yang dulunya car oriented dan sampai dengan trotoar digunakan sebagai parkir mobil untuk menutup demand parkir mobil,akhirnya dengan keterlibatan masyarakat, mereka memprotes hal ini dan sampai dengan menduduki dan berkemah di trotoar yang sebelumnya digunakan oleh parkir mobil, lalu dan akhirnya dengan kampanye menerus, akhirnya disetujui pemerintah setempat dan DPRD nya untuk pengembalian fungsi trotoar. Sesion kedua dilaksanakan oleh Kota Windhoek Namibia, yang mengankat tema perbaikan sistem transportasi angkutan umum massal, memang belum banyak terlihat hasil perbaikannya, namun mereka sudah mempunyai masterlan transportasi massal dan sedikit-demi sedikit mengarah kesana. Dan akhirnya session ketiga menjadi giliran kami, dimana ada 3 kota di Indonesia yang akan memaparkan diawali dengan Kota Jogjakarta yang akan melakukan penataan kawasan jalan malioboro, hal menarik dari penataan ini yaitu akan tidakdiperbolehkannya kendaraan pribadi melintas di kawasan ini, dan hanya pejalan kaki, pesepeda dan  TransJogja saja yang boleh melintas, juga relokasi parkir-parkir sepeda motor yang sebelumnya ada kea rah satu blok sisi barat darijalan malioboro. Suatu upaya sangat bagus yang perlu kita apresiasi dari Kota Jogaj, untuk menngubah image orang terhadap malioboro yang saat ini masih semrawut dan macet. Berikut Kota Solo memaparkan dengan tema “Walking Facilities, Solo as Eco Cultural City”, kami paparkan fasilitas pejalan kaki yang ada di solo,baik kondisi saat ini maupun pengembangan ke depan, dan satu keunggulan yang kami angkat adalah city walk dan Solo Car Free Day, dimana manfaat nya sudah bisa dirasakan masyarakat dan juga digunakan Kota Surakarta sebagai New City Branding. Presentasi ketiga dari Kota Bogor mengakat tema penataan jalur pedestrian di jl.Kapten Muslihat dan juga sekaligus sebagai Pilot project penataan kota, dimana dilokasi ini sebelumnya penuh PKL dan akhirnya menjadi kawasan yang nyaman bagi pejalan kaki dengan penambahan fasilitas-fasilitas pendukungnya.

Dan Akhirnya sore hari itu juga WALK21 Munich Conference resmi ditutup oleh Walikota Munich dan akan diselenggarakan di tahun 2014 kembali di kota Sidney Australia. semoga pula tahun depan kami bisa terus mengikutinya dan mendapatkan kesempatan kembali untuk mempresentasikan perkembangan Walkability dan Bikability di Kota Solo. amin

Terimakasih atas perhatiannya, insyaAllah akan dilanjutkan sharing informasi pada edisi besok (seri 8).

Ari Wibowo, S.SiT - Dishubkominfo Surakarta

 

 

Berita: 
Section: 
Tags: