Optimalnya Berlin Traffic Control Center (Seri 4)

  • Posted on: 11 September 2013
  • By: admin
Body: 

Pagi yang dingin menyelimuti Berlin, perjalanan dilanjutkan ke Berlin Traffic Control Center di Tempelhoff, lokasi yang dulunya merupakan bekas airport Berlin. Rombongan berangkat dari hotel menuju lokasi dengan menggunakan kereta api jalur U-Bahn menuju lokasi tersebut, namun dalam perjalanan ada info yang di tempel di kereta api maupun stasiun, bahwa kereta api tidak bisa langsung meneruskan satu kali perjalanan dan harus turun di stasiun terdekat dikarenakan adanya perbaikan jalan dan saluran/terowongan yang harusnya dilintasi kereta api kami. Dan kami harus menyambung perjalanan dengan berjalanan kaki beberapa blok bangunan menuju stasiun terdekat untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta U-Bahn menuju lokasi tujuan  satu hal yang menjadi perhatian adalah, adanya papan informasi yang menginformasikan penutupan jalan ini dan disertai waktu lamanya dengan pasti kapan dimulai dan kapan berakhir, dan pengguna U-Bahn harus melanjutkan berjalan kaki menuju stasiun terdekat untuk lanjutkan perjalanan, pamflet dan leaflet ini sangat banyak ditemukan di hampir di stasiun terdekat sehingga bukan jadi masalah dan pengguna U-Bahn bisa me-reschedule waktu berangkat/pulang mereka disesuaikan dengan hal ini, dan poin tambahan tentang hal ini adalah,sejak jauh hari sebelumnya,informasi ini juga sudah diinformasikan kepada masyarakat umum melalui website resmi pemerintah, dan media massa (Koran, televise maupun radio)

Sesampainya di Tempelhof, kami melihat konstruksi bangunan lama yang masih terawat dan memang benar bahwa ada bentuk-bentuk bangunan yang mirip dengan ungsi-fungsi bandara yang dulu pernah operasional di lokasi ini. kami disuguhi beberapa foto menarik yaitu foto Tempelhof yang dulunya adalah bandara internasional berlin, dan foto ruang control bandara jaman dulu, tampak pula foto diruangan penerimaan tamu adalah foto yang unik yaitu pengendalian traffic Light (APILL-Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas) pertama kali di Berlin pada tahun 1924, dimana di simpang empat post dammer platz ada menara/tower yang berdiri tepat di tengah persimpangan tersebut dan dilengkapi 3 lampu berjajar ke samping yang berbeda warna yaitu merah, kuning dan hijau, sedang lebih uniknya lagi ternyata tampak ada seseorang yang berdiri di dalam ruang diatas menara yang mengendalikan secara manual APILL tersebut dengan menyalakan lampu tiga warna secara bergantian dengan memencet tombol. Foto yang lain menunjukkan ruang pengendalian traffic light di Berlin yang sudah dimulai sejak 1970 dimana terlihat ada peta kota Berlin dan disertai titik-titik berwarna hijau dan merah di setiap persilangan garis, dan ternyata peta itu menjelaskan bahwa itulah peta titik lokasi APILL di Kota Berlin (barat) saat itu,dimana sebelum adanya penyatuan Jerman tahun 1989. Akhirnya setelah menunggu sesaat dan diberikan penjelasan singkat tentang foto-foto tersebut, kami memasuki ruangan yang mempunyai kapasitas tempat duduk 25 orang dengan model theater dilengkapi LCD screen dan ada tampilan presentasi.

Dan ternyata kami diterima dan diberi penjelasan melalui presentasi LCD oleh pihak Siemens, produk yang telah sejak awal digandeng oleh Pemerintah Kota Berlin selaku pemilik otoritas lalu lintas disini. Lokasi paparan ini berada diatas traffic control center sehingga dari kaca bisa kita lihat jelas pengendalian traffic light dengan visualisasi ada peta ukuran besar yang ditampilkan dari TV LED ukuran beras, dan juga sekitar 40 kamera cctv yang di plot dalam setiap wall tv.   

Dari paparan tersebut didapatkan data-data sebagai berikut: 3,5 juta orang tinggal di Berlin dan separo nya bekerja setiap harinya sehingga menjadi suatu perhatian karena minimal melakukan perjalanan pergi-pulang setiapa harinya. Lalu kurang lebih 400.000 orang diantaranya merupakan komuter dari wilayah sekitarnya. Panjang jalan di berlin 5.419 km, sebagai jalan utama sepanjang 1.570 km dan 80 km merupakan jalan tol. Jalan-jalan utama inilah yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Berlin dalam hal ini sebagai penanggung jawab adalah Dinas Perhubungan mereka. kemudian data prosentase kendaraan dan penduduk di Berlin yaitu 320 kendaraan dalam setiap 1.000 penduduk, hal ini termasuk yang terendah di Jerman dimana bila dibandingkan di Kota Munich mempunyai perbandingan 500 : 1.000, hal ini sedikit membuktikan bahwa jalan di Berlin cukup pendek dan Berlin telah memiliki pelayanan angkutan umum dang nyamana dan sudah banyak digunakan.

Moda spilt di Kota Berlin yaitu 32 % mobil pribadi, 26 % angkutan umum, 13 % pejalan kaki dan 13 % pesepeda serta sisanya lainnya. Unit ditempat kami dipaparkan presentasi ini mempunyai nama BARTCC dan mempunyai tugas pertama yaitu pengaturan lalu lintas 24 jam terutama pengaturan APILL sebanyak 2.050 lokasi simpang, 300 kamera persimpangan dan 40 kamera jalan kota. Kedua mereka bertugas untuk melakukan manajemen event, dimana sering sekali beberapa ruas jalan di Berlin ditutup digunakan untuk perbaikan jalan, syuting film, kunjungan tamu kenegaraan dari Negara sahabat, event olahraga.

Tugas yang ketiga yaitu melaksanaan kajian lalu lintas secara periodik maupun insidental terhadap kondisi lalu lintas Kota Berlin dan hasil ini sangat berguna untuk banyak hal diantaranya diberikan ke instansi pengelola Angkutan Umum Massal di Berlin untuk melihat data penggunaan kendaraan pribadi, travel time, dan menjadi salah satu dasar evaluasi angkutan umum massal. Kegunaan lainnya adalahbila dalam kajian tersebut suatu ruas jalan penuh, maka dibisa dilakukkan manajemen perubahan jalur dan lajur lalu lintas, missal di tunnel/terowongan yang di ujung persimpangan menuju tunnel sudah dilengkapi portal manual dan juga dilengkapi papan petunjuk arah arus lalu lintas di sebelah atas pintu masuk tunnel (seperti pintu in-out gerbang tol) yang ada gambar centang (warna hijau, boleh dilalui lajur ini) dan gambar silang (warna merah, lajur ini tidak bisa dilalui dan silakan ambil lajur lain yang berwarna hijau), terdapat 2 sistem dalam pengaturan lalu lintas insidentil di  seperti ini di tunnel yaitu dilaksanakan penggunaan one way traffic (Sistem satu arah total) ataupun tidal flow (pembagian lajur terbanyak untuk arus lalu lintas yang dominan, seperti 3 : 1, yaitu 3 lajur digunakan arus lalu lintas menuju pintu tunnel A dan 1 lajur untuk lajur dengan arah arus lalu lintas meninggalkan pintu tunnel A).

 

Tugas ke empat dari traffic control center ini yaitu menginformasikan segala sesuatu tentang kondisi lalu lintas dan suatu kejadian dan himbauan kepada warga masyarakat melalui beberapa media, yaitu LCD display screen yang ada di ruas-ruas jalan dan persimpangan, lalu melalui internet via website mereka memberikan gambaran detail kondisi lalu lintas dengan memberikan peta kepadatan lalu lintas di berlin,dimana sudah dilengkapi indicator nya,yaitu bila suatu ruas jalan dipeta itu berwarna hijau berarti kondisi lalu lintas normal, bila berwarna kuning maka bisa dijelasan bahwa kondisi akan menjadi macet, sedang bila ruas jalan tersebut berwarna merah maka ruas jalan tersebut dalam kondisi macet,, warna hitam juga ditampilkan bahwa terjadi penutupan jalan dilokasi tersebut karena sesuatu hal, peta ini di upgrade setiap 5 menit sekali dan terakhir yang cukup menarik yaitu mereka memberikan satu ruang khusus bagi salah satu stasiun radio di lantai atas ruangan traffic control untuk memberikan siarannya kepada pendengar radio tentang kondisi arus lalu lintas terkini setiap 30 menit sekali. Sungguh sangat dirasakan optimal kinerja Berlin Traffic Control System ini. Terutama terhadap informasi lalu lintas yang sangat detail dan up to date yang bisa diakses oleh masyarakat luas, sehingga akan dapat mengefektifkan perjalanan lalu lintas harian/insidetil warga Berlin,yaitu mereka bisa memilih waktu perjalanan, mengubah rute perjalanan menuju lokasi dan juga menunda perjalanan mendasari informasi lau lintas yang ada.

Perlu diketahui pula selain Siemens yang melaksanakan kegiatan pemantauan dan maintenance dengan durasi kontrak 10 tahunan, ternyata hanya dibutuhkan 7 orang pengelola ruangan traffic control ini yang semuanya adalah pegawai dinas perhubungan Kota Berlin yaitu satu orang kepala traffic control dan 3 orang pegawai per shift nya (satu hari terbagi 2 shift, dengan jam kerja pukul 05.00 sampai dengan pukul 20.00 waktu Berlin). Dijelaskan pula dalam paparan ini posisi Kepolisian dalam melaksanaakn tugasnya terutama terkait pengendalian lalu lintas ini, yaitu bahwa petugas kepolisian bertanggung jawab terhadap hal keamanan, sedang kewenangan pengaturan manajemen lalu lintas sepenuhnya pemerintah daerah setempat dalam hal ini dinas perhubungan Kota Berlin. Namun polisi selalu ada yang standby satu orang di ruangan ini, sebagai informan bagi sesuatu hal yang jadi kewenangannya serta dilibatkan pula dalam manajemen lalu lintas karena adanya suatu event. Dan selain divisi traffic central control room juga ada divisi lain yang terkait disini yatiu komisi kecelakaan lalu lintas.

Ditambahkan juga bahwa ada perubahan kebijakan visi kota yang cukup berlawanan namun menunju ha yang lebih baik dimana visi Kota di tahun 1970 adalah Kota yang ramah Kendaraan, namun ditahun 1990an visi kota Berlin sudah berubah menjadi Berlin dengan pelayanan angkutan umum massa terbaik. Seperti kita tahu beberapa kota di Indonesia, khususnya kota Solo juga telah mengembangkan hal yang sama yaitu traffic control system, yang menjadi perbedaan mendasar adalah bila di Solo, dibangun ITS (Intelligent Transport System) dimana mempunyai pengaturan terhadap tiga hal mendasar yaitu traffic control(ATCS-Area Traffic Control System), public transport support (bus priority, waiting time display, tracking map GPS batik Solo Trans, Smart Ticketing) dan Information system (melaporkan informasi kondisi lalu lintas melalui VMS-Variable Massage Sign, cctv streaming di persimpangan via website www.dishubkominfo.surakarta.go.id , via jejering social facebook grup di “DINAS PERHUBUNGAN KOTA SURAKARTA”, twitter “@infolalinsolo”, “@hubkominfosolo” dan kerjasama traffic report bersama Radio dan stasiun televise lokal), Sedangkan yang menjadi perbedaan hanyalah bila di Berlin public transport support langsung terpisah tersendiri baik ruangan maupun pengendaliannya, yaitu dilaksanakan oleh persatuan perusahaan angkutan umum massal di berlin dan tetap terkoneksi aktif dengan ruang central control room traffic light yang ada di Tempelhoff. Lokasi central control room khusus angkutan umum berada di daerah Liechtenberg. Dari hal yang kami sampaikan diatas kami mohon maaf,selama di ruangan Berlin traffic control Center tidak diperbolehkan mengambil dokumentasi gambar.

Itulah sementara yang bisa disampaikan, karena siang hari sampai dengan malam hari kami lanjutkan perjalanan kereta api S-Bahn dari Kota Berlin dan akan menuju Kota Munich untuk melaksanakan konferensi pejalan kaki WALK 21.

 

Terimakasih atas perhatiannya,insyaAllah akan dilanjutkan sharing informasi tentang kota Munich dan konferensi WALK 21 pada edisi besok (seri 5).

info tentang info traffic light di berlin silakan klik www.viz-info.de

 

Ari Wibowo, S.SiT - Dishubkominfo Surakarta            

Email : ariwibowo.dishubkominfosolo@gmail.com

Berita: 
Section: 
Tags: