MUNICH SURGANYA PEJALAN KAKI (Seri 5)

  • Posted on: 12 September 2013
  • By: admin
Body: 

Hari kelima di Jerman, kami sudah berpindah lokasi ke Kota Munich setelah kemarin menempuh perjalanan 6,5 jam dari Belrin ke Munich menggunakan Kereta Api cepat ICE, dan kami menempati suatu tempat di pedesaan tepatnya di International Training Center(ITC)  milik GIZ Jerman (instansi yang mengundang kami ke acara konferensi di Jerman) di Wielingerstr 52, 82340 Feldafing,Tempat ini sangat sejuk karena berada di tengah pedesaan yang sangat asri dan masih banyak pohon di hutan samping ITC, pagi ini hawa dingin yang menyelimuti perjalanan kami dari wisma GIZ ini berjalan kaki sejauh 500 meter menuju stasiun Feldafing. Kami akan naik kereta dengan jalur trayek S-6 sudah sampai di Feldafing dan akan membawa kita menuju ke tempat konferensi WALK21 di Kongres Hall Deutch Museum. Dengan melihat public transport yang sudah terbangun,patut kita apresiasi bahwa semua pedesaan di kawasan Munich pun telah terjangkau sistem kereta api. Hal itu terlihat bahwa ada schedule yang tepat dan sangat disiplin oleh penyedia jasa kereta api, dan juga keterpaduan informasi yang sangat tepat, detail dan sangat banyak tersosialisasi dimana-mana. Akhirnya kereta api jalur S-6 pun datang tepat waktu pukul 8.04 waktu setempat dari setasiun awal/paling ujung adalah Tutzing dengan hanya selisih satu setasiun sebelum/berikutnya. Kami berencana akan turun di stasiun Marienplast,lokasi terdekat dengan lokasi konferensi yang akan kami datangi Sesuai gambar peta dan schedule yang ada, kereta api ini akan menempuh perjalanan selama 49 menit dan melintasi 17 stasiun berikutnya. Dan sesuai prekdiksi, jadwal tersebut sangat tepat, dimana kami tepat sampai di stasiun marienplast pukul 8.53 waktu setempat. Hal ini yang menjadi andalan sistem transportasi massal yang perlu kita tiru bersama, ada factor disiplin, kerja keras, yang akhirnya akan muncul kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi terhadap pelayanan ini. Kepercayaan masyakarat inilah yang harus kita raih dan tentunya bila sudah teraih maka wajib dipertahanan dan bahkan ditingkatkan pelayanannya.

Ada persamaan dan perbedaan sistem kereta api yang ada di Berlin dan Munich, Persamaannya sangat banyak sekali mulai dari timgkat pelayanan, informasi, tiket yang digunakan juga sama, otoritas pengelola angktan umum nya pun sama, dan sistem dasar pelayanan sama yaitu U-Bahn (kereta api perkotaan yang mayoritas rute nya menggunakan jalur bawah tanah/subway) dan S-Bahn (kereta api yang kesemua jalurnya berada diatas permukaan tanah dan biasanya juga digunakan kereta api jarak jauh.

Sedangkan perbedan yang mendasar adalah bentuk model jaringan jalan rel kereta apinya, yaitu bila di Berlin menggunakan network jalur  utama adalah sistem loop(melingkar) dan jalur lainnya merupakan fungsi feeder yang mengambil penumpang dari pinggiran kota dan jalur feeder ini juga mempunyai trayek tambahan menyambungkan antar stasiundi loop tersebut dengan sistem seperti crossing perlintasan. Sedangkan di Munich, sistem jaringan kereta api menggunakan sistem line/garis lurus, yaitu banyak sekali himpitan trayek yang ada, dan feeder tetap disiapkan untuk mengangkut penumpang dari daerah pinggiran kota seperti halnya perjalanan kami dari daerah pedesaan di Feldafing.

Akhirnya kami turun di stasiun MarienPlatz dan menuju lokasi konferensi dengan berjalan kaki dengan berjarak hanya 100 meter. Bila sedikit kita bertanya apa itu konferensi WALK21?konferensi ini dimulai tahun 2000 di London, dengan tujuan untuk mempromosikan pembangunan prasarana pejalan kaki yang bisa menyehatkan, secara berkelanjutan dan mengefisienkan serta support kominutas-komunitas pejalan kak, dimana kita tahu bahwa berjalan adalah dasar dari sistem transportasi,merubah mindset orang akan berjalan kaki, dan mensosialisasikan bahwa pejalan kaki dan fasilitasnya merupakan aspek penting dari perencanaan transportasi.  Konferensi Walk21 sebelumnya pernah diselenggarakan di London, Barcelona, Copenhagen, Zurich, Melbourne, New York, Vacouver dan Mexico City, dan Munich menjadi Kota pertama di jerman yang menyelenggarakannya. Dengan Motto “Walking Connect” merefleksikan kreasi dari lingkungan pejalan kaki yang bersahabat dan mengkoneksikannya dengan para praktisi pemikirnya, bagaimana dispilin,nya, dan prasarana pendukungnya

 Ada beberapa lokasi utama di konferensi WALK21 ini, yaitu Old Congress Hall dimana terdapat plenary room, dan registrasi peserta, mobility and transport Center of the Deutches Museum, 

Setelah dilaksanakan registrasi ulang peserta dan mendapatkan tool kit pendukung kegiatan acara, kami memasuki ruangan ballroom congresshalle , dan acara pun dimulai dengan dibuka oleh Walikota Munich Hep Monatzeder, dilanjutkan presentasi dari banyak expert urban planning, transport dan tokoh masyarakat maupun LSM,ketika ada presentasi dari Prof Herman Knofflacer, direktur institute transportasi, pusat riset Trasnport planning dan Traffic Engineering  Universitas Teknologi Wina Austria, yang menyampaikan pemikiran yang bahwa mobil telah menjadi virus dan meracuni otak kita dan semua orang di dunia ini,, sehingga kita selalu berpikir sebagai mobil dan memberikan fasilitas kepada mobil tersebut. Dicontohkan secara ekstrim olehnya, ketika suatu hari, dia berdiri dan disekeliling badannya dibuat sedemikian rupa dengan desain sederhana/simple yang membentuk dia berdiri ditengah, dan disekitarnya ada kayu yang terikat dan fleksibel membentuk seperti dimensi mobil, dengan menggunakan benda tersebut, dia berjalan di tengah kota, dan dia mencoba menjadi bentuk fisik mobil di jalan, dan sampai dengan dia pun parkir di ruangan parkir mobil, dengan mencontohkan hal seperti itu, disimpulkan bahwa begitulah bila kita berpikir sebagai mobil(terkena virus) , dan disampaikan pula kita harus segera meninggalkan/mengurangi penggunaan mobil pribadi, dan berjalan kaki, bersepeda maupun naik angkutan umum massal lah. Dan satu hal dia sampaikan di kota Wina jaman dahulu dimana perkembangan jumlah mobil semakin tinggi, yaitu adanya perbandingan lurus antara kepemilikan mobil dan kejahatan yang terjadi terkait kemepilikan mobil. Jadi saat itu kepemilikan mobil bertambah tinggi dan diikuti dengan meningkatnya kejahatan terkait. Dan dipaparkan pula untuk menciptakan kota yang ramah dan nyaman bagi pejalan kaki, maka mobil-mobil yang dimiliki penduduk  wajib dimasukkan garasi di pinggir-pinggir kota. Dicontohkan kasus yang sangat bagus implementasinya adalah di Kota Seoul dimana sebelumnya ada jalan layang di tengah kota, dan dibawahnya sejajar dua ruas jalan utama kota yang dibelah/diantaranya terdapat sungai. Dan akhirnya sebagai pembatasan ruang bagi pergerakan mobil maka jalan laying tersebut di robohkan dan mengembalikan fungsi sungai seperti semua dan sebagai tempat wisata air maupun public space bagi warga, suatu proyek fenomenal dan yang berhasil merubah mindset orang yang berpikir sebagai mobil.

Beberapa presentasi lain yang menarik adalah dari Jason Robert, sebagai koordinator  “Better Block Program” yang diselenggarakan di Texas Amerika, dimana dia dan kelompoknya dimana didasari di tempat asalnnya, menyerukan kepada pemerintah bahwa perlunya fasilitas pejalan kaki bagi masyarakat. Dan bahkan kelompok LSM ini tidak segan-segan melakukan kegiatan berani dengan mengecat marka zebra cross sendiri ketika pemerintah belum bisa menyiapkan fasilitas ini. Ada beberapa contoh kepedulian lingkungan juga dilaksanakan kelompok ini seperti sebelumnya banyak sekali ban-ban bekas mobil yang ada di mana-mana, mereka kumpulkan, di cat dan digunakan sebagai ayunan anak-anak di beberapa lokasi public space. Kita pun sebenarnya bisa melakukan banyak hal tentang perbaikan lingkungan kita, namun kembali dihadapkan pada kemauan dan keinginn kita untuk merubahnya, dan peduli terhadap sesame. Beberapa inspirasi yang perlu kita tiru, mgkn memang dipandang terlalu ekstrim ketika mereka mengecat zebra cross, namun itu dibuatnya untuk kepentingan masyarakat dan menarik perhatian pemerintah daerah setempat akan perlunya fasilitas pejalan kaki.

Setelah makan siang kami akhirnynya mengikut program Walkshop dimana peserta selain dipersikana memilih beberapa  ruangan konferensi kecil, juga bisa dipersilakan untuk mengikuti walkshop, ada beberapa pilihan rute dan tema walkshop ini, dan akhirnya kami sepakat untuk mengikuti walkshop A01 dengan tema Art and Science by foot. Kami dipandu seorang wanita bernama maramontez dengan pendamping seorang laki-laki dan perempuan, yang mengajak kita jalan-jalan berjalan kaki sekeliling munich dan setelah naik Kereta U-Bahn kamoi sampai ke lokasi wisata seni sesuai tema yang kami ambil, dan menariknya ada headset yang masing-masing dibagikan kepada rombongan kami dan guide menjelaskan via mikoropohone yang tersambung ke headset kami masing-masing, lokasi yang pertama kami kunjungi adalah kawasan wisata dalam kota berlin. Seperti tugu perjuangan napoleon, museum pinakotek, museum Kristal, dan univertas teknik munich (TVM) yang sangat terkenal. Fasilitas pejalan kaki menuju lokasi sangat nyaman dan terpisahkan secara jelas dengan kendaraan pribadi, sempat kami lihatpun ketika ada pembangunan jalan sehingga berakibat pedestrian crossing yang satu bagian dengan traffic light terdekat dimatikan/tidak difungsikan sementara, akhirnya dipasang pedestrian crossing darurat dengan model seperti bando reklame  untuk memfasilitasi penyeberang jalan, dan juga terlihat banyak skali tempat duduk di pinggir jalan dan juga di taan-taman kota yang disiapkan sebagai open space. Setelah perjalanan kami berkelliling kota dalam rangkaian Walkshop WALK21 ini, kami sore hari selesai konfererensi kami lanjutkan perjalanan jalan-jalan pribadi ke lokasi wisata lain, seperti di kawasan RATHAUS dimana ada beberapa gereja dan bangunan tua lain mengelilingi open space yang kami datangi, ribuan orang juga berkumpul untuk sekedar ngobrol, berfoto di lokasi ini, dan ternyata tidak berselang lama kemudian terdengar bunyi lonceng gereja yang bersautan dan akhirnya dari lokasi gereja tertua, membunyikan lonceng cukup lama dan diiringi dengan berputarnya boneka-boneka di atas/menara gereja seprti komedi putar. Ternyata hal inilah yang menjadi magnet dan ketertarikan wisatawan untuk datang ke lokasi ini. Terlihat pula tidak ada kendaraan mobil pribadi yang melintas di daerah ini dan hanya angkutan umum massal yang diperbolehkan masuk kawasan ini, karena mereka mengangkut wisatawan yang menuju lokasi ini.

 Dan di kawasan ini pula terdapat pembangunan jalan sampai jalan tersebut harus ditutup, menariknya hal tersebut tidak mengurangi ruang dan fungsi pejalan kaki yang tetap terlindungi, bahkan cenderung mengorbabkan full bagi ruang kendaraan.  Waktu pula yang belum mengijinkan kami berjalan-jalan lebih lama,karena kami harus kembali ke Fieldafing yang cukup jauh dari lokasi wisata ini.

 

Terimakasih atas perhatiannya,insyaAllah akan dilanjutkan sharing informasi pada edisi besok (seri 6).

info tentang konferensi WALK21 silakan klik www.walk21.com atau www.munichwalk21.com

Ari Wibowo, S.SiT - Dishubkominfo Surakarta

Berita: 
Section: 
Tags: